Juli 29, 2010

Terima Kasih & Selamat Tinggal, Raúl González Blanco

Sumber : http://www.goal.com/id-ID/news/1357/sepakbola-spanyol/2010/07/27/2043397/spesial-terima-kasih-selamat-tinggal-ra%C3%BAl-gonz%C3%A1lez-blanco



Mungkin tak pernah terpikirkan hari perpisahan Raul Gonzalez Blanco dengan Real Madrid -- klub yang sudah dibelanya selama 16 tahun.

Sepanjang rentang waktu itu, Raul mengalami berbagai fase perubahan. Malaikat Madrid, Anak Emas Spanyol, Sang Legenda, El Capitan, El Siete, atau hanya Raul. Mulai dari ikon berwajah bayi sampai menjadi ikon tak terpisahkan Madrid di milenium baru.

Legenda Raul dimulai ketika gagal masuk akademi Atletico Madrid. Remaja berusia 15 tahun itu menyeberang ke Santiago Bernabeu untuk memulai karir sebagai pemain muda. Dalam dua tahun, Raul mampu menembus tim inti Los Merengues.

Seorang Jorge Valdano lah yang mempercayakan posisi tersebut kepada Raul. Debutnya ditandai saat masih berusia 17 tahun menghadapi Real Zaragoza akibat cedera yang menimpa Martin Velasquez. Debut itu berakhir dengan kekalahan 3-2, tapi tempatnya di tim inti tetap aman. Pada pertandingan berikutnya, Raul mencetak gol dalam kemenangan 4-2 atas Atletico Madrid.

Sisanya, adalah sejarah. Sejumlah 228 gol dicetaknya dalam 549 pertandingan liga.
Raul sontak menjelma tak hanya sebagai pesepakbola atau pencetak gol untuk Si Putih, tapi sebagai ikon klub. Pria yang kini berusia 33 tahun ini menyimpan rapat-rapat kehidupan pribadinya di luar lapangan. Raul seolah hanya mau memikat fans melalui congkelan sederhana atau beberapa gol saat tampil di atas lapangan.

Raul tak menyukai sebutan Los Galacticos yang disematkan media saat Florentino Perez memulai kiprah sebagai presiden klub. Secara kebetulan, Raul mulai kehilangan bentuk penampilan. Beberapa pemain terbaik dunia masuk dan mengganggu konsistensi permainannya. Luis Figo, Zinedine Zidane, Ronaldo, Roberto Carlos, dan David Beckham tak hanya masuk sebagai rekan setim, tapi pesaing di tim inti. Raul tetap tegar menghadapi tantangan tersebut.

Sempat menjadi saksi pergantian serangkaian pelatih, tepatnya 17 kali, Raul mengalami masa-masa kepemimpinan Valdano, mulai dari pelatih hingga sekarang menjadi direktur, dua kali dilatih Fabio Capello, Jose Antonio Camacho yang juga melatihnya di timnas, serta Vicente del Bosque.

Di atas lapangan, pasangan sempurna Raul adalah Fernando Morientes. Duet penyerang ini begitu menakutkan karena memiliki kesepahaman yang hebat. Selama enam musim, mereka bermain bersama dan menciptakan total 245 gol di semua ajang.

Masuklah Ronaldo. Bersama penyerang Brasil ini, Raul harus merelakan posisi penyerang utama. Bersama Michael Owen, Raul tak pernah mengalami perpaduan sempurna meski pasangannya tersebut mampu menyabet Ballon d'Or 2001.

Pelan-pelan sentuhan Raul kembali saat bermain dengan pemain setipe Morientes, Ruud van Nistelrooy. Begitu pula ketika berdampingan dengan Gonzalo Higuain sebelum akhirnya seperti sebuah déjà vu, Raul harus mengalah dan memberi jalan kepada Ronaldo yang lain... Cristiano Ronaldo.

Sambutan terakhir | Pertandingan terakhir Raul bersama Real Madrid dirayakan dengan gol

Dongeng Raul bersama Madrid sebenarnya dapat berakhir 2003 silam ketika Florentino Perez berupaya menjualnya ke Chelsea dengan transfer senilai £71,4 juta plus gaji £8,4 juta per musim. Tanpa berpikir dua kali, tawaran menggiurkan tersebut ditolaknya.

Meski harus menghadapi tantangan dari banyak bintang, penampilan Raul tetap konstan dan menjadi teladan bagi para pemain muda Madrid. Namun, meski si Anak Emas telah menjadi Raja, dia tetap saja tidak abadi dan harus mengalami sebuah akhir.

Petualangan Raul di Santiago Bernabeu adalah sebuah perjalanan panjang. Fans tak pernah membayangkan Raul akan meninggalkan Madrid dan bermain untuk tim lain, baik di Spanyol maupun luar negeri. Dia seorang pemain yang identik dengan sebuah klub. Sungguh sebuah momen manis, meski sedih, ketika Raul memainkan laga kompetitif terakhirnya bersama Madrid dan menyumbangkan sebuah gol ke gawang Real Zaragoza, klub yang juga dihadapinya saat memulai debut.

Momen yang penuh warna bagi para pendukung. Sedih menyaksikannya meninggalkan klub, tapi bahagia dengan penampilannya di atas lapangan serta turut mewarnai dunia sepakbola.

Sejak bermain bersama striker yang lebih matang seperti Ivan Zamorano, Michael Laudrup, Davor Suker, dan Predrag Mijatovic, Raul banyak belajar sebagaimana teladan yang diserapnya dari Manolo Sanchis, Fernando Hierro, dan Fernando Redondo. Fase akhir kiprahnya ditandai dengan memimpin tim dengan sekumpulan pemain hebat macam Zidaen hingga Cristiano Ronaldo. Momen seperti ini akan dikenang selamanya.

Kita takkan lagi menyaksikan Raul di atas rumput Estadio Santiago Bernabeu.

Rekor Raul bersama Raul Madrid:

16 tahun -- dan 15 musim penuh -- bersama tim senior Real Madrid

17
tahun dan empat bulan. Pemain termuda yang pernah memulai debut untuk Madrid.

228 gol di liga. Rekor ketiga tertinggi sepanjang masa di La Liga

323
gol di ajang kompetitif. Topskor Madrid sepanjang masa

66 gol di Liga Champions. Topskor ajang ini sepanjang masa. Dia juga menjadi pemain pertama yang mampu menembus 50 gol

68 gol di seluruh kompetisi level UEFA, menjadi topskor bersama sepanjang masa
550 penampilan di La Liga. Rekor di Real Madrid dan kedua terbanyak sepanjang sejarah La Liga

132
penampilan di Liga Champions, tertinggi kedua sepanjang sejarah kompetisi

16 gelar juara

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts with Thumbnails